Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Papua – 2013

Book Cover: Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Papua - 2013

Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) melibatkan 5.861 sampel yang mewakili Laki-laki dan Perempuan di Tanah Papua (provinsi Papua dan provinsi Papua Barat), dilakukan antara bulan Januari dan September 2013. Semua responden diminta untuk memberikan sampel darah untuk dilakukan tes HIV dan siflis. Responden juga diwawancarai menggunakan kuesioner terstandar untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik demograf, perilaku berisiko penularan HIV, dan paparan terhadap program pencegahan HIV. Hasil survei menunjukkan 2,3% dari masyarakat umum Tanah Papua saat ini terinfeksi HIV yaitu, 2,3% pada Laki-laki dan 2,2% pada Perempuan. Temuan kunci dari survei adalah 2,9% responden suku Papua terinfeksi HIV, lebih tinggi dari prevalensi HIV pada responden bukan suku Papua yaitu 0,4%. Sunat pada Laki-laki secara signifkan memiliki korelasi dengan infeksi HIV, 4% Laki-laki yang tidak disunat terinfeksi HIV, sedangkan Laki-laki yang disunat hanya 0,1% terinfeksi HIV. Pada Perempuan, melakukan seks dengan imbalan/dibayar setahun terakhir secara signifkan berhubungan dengan infeksi HIV, dimana 3,5% dari mereka yang mengaku melakukan perilaku tersebut terinfeksi HIV, dibandingkan dengan hanya 2,2% dari mereka yang tidak melakukannya. Prevalensi siflis aktif, dari mereka yang terinfeksi siflis, 4,7% adalah Laki-laki dan 4,2% Perempuan. Sama seperti prevalensi HIV, prevalensi siflis aktif juga secara signifkan lebih tinggi pada suku Papua, 5,7% dibandingkan dengan 0,8% pada bukan suku Papua. Tidak sunat juga berkolerasi tinggi dengan siflis aktif; 4,8% dari Laki-laki yang tidak disunat saat ini terinfeksi siflis sementara mereka yang disunat hanya 1,1% terinfeksi siflis.

Survei ini merupakan lanjutan dari survei serupa yang dilakukan pada tahun 2006. Dalam studi tersebut prevalensi HIV di masyarakat umum Tanah Papua adalah 2,4%. Angka ini tidak berbeda secara statistik dengan temuan pada tahun 2013 yaitu 2,3%, hal tersebut mengindikasikan prevalensi HIV yang stabil. Akan tetapi, perlu diperhatikan metoda tes HIV di kedua survei ini berbeda, dan prevalensi yang stabil tidak berarti angka kasus HIV baru berkurang, maka membandingkan kedua angka ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati. Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa perilaku seks berisiko tinggi terus memicu epidemi HIV di Tanah Papua. Sekitar satu di antara sepuluh Laki-laki (12,7%) dan 3,6% Perempuan mengaku dalam satu tahun terakhir memiliki pasangan seks tidak tetap, termasuk pasangan dengan imbalan. Perilaku ini tidak berbeda dengan hasil survei tahun 2006. Penggunaan kondom saat terakhir melakukan seks dengan imbalan pada Laki-laki meningkat secara signifkan, dari 14,1% di tahun 2006 menjadi 40,3% di tahun 2013, hal ini mengindikasikan kecenderungan perilaku yang positif. Survei ini merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Papua, 12 Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota terpilih, Balai Laboratorium Kesehatan Jayapura (BLK), Biro Pusat Statistik (BPS), USAID Scaling Up for Most-at-Risk Populations Project (SUM I) yang dikelola oleh FHI 360 (Family Health International). Dana untuk implementasi dan dukungan teknis bagi survei disediakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, USAID, Australian Department of Foreign Afairs and Trade (DFAT), World Health Organization (WHO), The World Bank dan FHI 360.

Published:
Genres:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *