Pertemuan Pokja PDP

Map Unavailable

Date/Time
Date(s) - 04/10/2018
09:15 - 12:00

Location
KPA Kota Bandung

Categories No Categories


Pokja Pengobatan, Dukungan dan Perawatan, merupakan salah satu POKJA yang telah dibentuk dan berperan aktif dalam menentukan kebijakan PDP di Kota Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan di Sekretariat KPA Kota BAndung dengan dihadiri oleh seluruh unsur Pokja.

Pembukaan 09.25 WIB

Sambutan dari dr.Ira

Situasi Layanan PDP di kota bandung

Hasil reaktif lainnya 45%? Maksud lainnya ini darimana? Katagori lain atau apa?

Dr. Ira: bukan dari IMS dan TB à bisa dari UGD dan atau non populasi kunci

Hasil pemetaan populasi Kota Bandung à status pernikahan  berpengaruh pada seseorang untuk melakukan tes HIV.

Hambatan dan tantangan:

  • Pembiayaan untuk penjangkauan dan pendampingan à exit strategi setelah pembiayaan dari pihak luar berakhir
  • Biaya tes
  • Mutasi pegawai terlatih
  • Komitmen pimpinan fasyankes
  • Jumlah tenaga yang terlatih KTHIV
  • Komitmen dokter
  • Populasi kunci remaja
  • WPA belum berjalan secara efektif
  • Tes HIV pada bumil belum mencampai target
  • Pembiayaan
  • Jejaring antara puskesmas dan LSM

LFU:

Dr. Mery : Masing-masing LSM ada penjangkauan dan pendampingan, diluar LFU yang diluar terat      ai? Apakah semua pasien2 yang didampingingi oleh LSM sudah kembali.  Koordinasi untuk LFU RS dengan LSM.  Start ARV sudah dijalankan di klinik dan puskesmas.  Untuk kasus drop out dokter harus menganalisa pasien terlebih dahulu.

Untuk memperkuat layanan memberikan data pasien ke dampingan sebaiknya  ada surat edaran dari atas untuk menjadi dasar bagi RS memberikan data ke pendamping.

Sari: dampingan LFU sudah ada beberapa yang kembali, prosedur  yang harus diikuti agak rumit.  Apakah ada solusi untuk mempermudah dari  sisi  pasien tanpa harus melakukan baseline dan langsung mendapatkan arv kembali?

Dr. Rudi:

Pemeriksaan lab sudah tidak diberlakukan lagi di RSHS, secara umum arv saat ini sudah sangat aman tanpa melakukan baseline.  Mendorong  puskesmas  yang  mendapatkan pasien HIV stadium 1 dan 2 untuk memberikan arv.    Baseline bukan termasuk hal yang wajib saat ini.

Penelitian HATI: RSHS, RSUD dan Bungsu à simplified arv kriteria stadium 1 dan 2, menyingkirkan kemungkinan TB, singkirkan orang yang mempunyai sejarah penyakit ginjal (diabetes, hep, berat badan kurang, usia manula)

Arjuna Pasundan (Agus)

  1. Bungsu harus melakukan tes baseline.Test and treat ini apakah sudah menjadi keharusan di RS? bagaimana supaya ODHA bisa mendapatkan ARV.  à periksa di puskesmas jangan di rumah sakit karena asusmsi nya apabila pasien mengakses layanan RS maka dia sudah stadium 3 dan 4

Dr. Ira

aturan BPJS  pada prisnipnya harus berjenjang.  Untuk test and treat silahkan mengakses layanan di puskesmas.  Kendalanya belum semua puskesmas mempunyai klinik cst.  Baru bisa diakses di puskesmas Ibrahim ajie dan klinik mawar.    kasus LFU dilayanan  apakah datanya bisa diberikan ke pendamping supaya bisa di follow up.

Dengan adanya puskesmas harus antisipasi untuk pasien LFU.

Dr. Ronald

Untuk Ibrahim ajie sudah melaksanakan cst, kendalanya untuk  puskesmas  ada di pencatatan dan pelaporan.  Subsidi obat (arv gratis ) dapat menimbulkan   kelalaian pasien karena gratis maka pasien menganggap adherence tidak terlalu penting karena pada saat puts obat juga akan diberikan kembali.

SUster Elizabet (Imanuel):

Pasien HIV dan DO harus baseline lagi. Untuk efek jera. Untuk pasien baru baseline diberlakukan

Suster Ivone (Advent)

Untuk LFU  harus mengambil obat di kimia farma.

U=U (dr. Bagus)

Testing masih rendah

Kenapa kematian tinggi: data VL belum ada

Monitoring rendah

Imanuel:  penggunaan kondom untuk pasangan ODHA undetectable apakah boleh?   Asalkan VL undetectable boleh.

RSHS:  kampanye U=U tidak boleh ditelan mentah-mentah tanpa melihat infeksi lain.  Informasi ini penting bagi kita tetapi tidak terdeteksi bukan berarti tidak menularkan.  Karena ada IMS, hep C dll. Tes VL sangat dibutuhkan.  Dengan tes VL pasien dapat mengetahui pengobatannya berhasil atau tidak.  Sehari 15 pasien per hari biaya Rp. 480.000.

Beberapa hambatan:

VL sangat mahal, solusi menggunakan mesin gen expert

Apabila VL masih mahal maka harus ada solusi supaya VL lebih murah.

Dr. Niken: apakah Prep sudah bisa dijalankan di Indonesia?

Jawaban: dr. Bagus: Sementara di Indonesia belum ada regulasinya tetapi untuk rekomendasi sudah ada.  PreP tidak terlalu bermakna, yang lebih bermakna ARV bagi ODHA.

Dr. Ronald; pemantauan dan ketersediaan obat, apakah pasien mau meminum Prep dengan jumlah obat yang banyak.  Kepatuhan rata2 PreP 65%.  Belanda sudah melaporkan resistensi PreP.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *