Laporan Bantuan Nutrisi Untuk Anak Dengan HIV dan AIDS Tahun 2017

Latar Belakang

Jumlah kumulatif HIV AIDS di Kota Bandung sampai dengan Juni 2017 sebanyak 4196 kasus. Dari jumlah tersebut 37,54% kasus didapat dari heteroseksual. Kasus HIV pada Ibu Rumah Tangga mengalami peningkatan 1-2% per tahun dengan rata-rata temuan kasus baru 40 orang per tahun. Hal ini berdampak pada penularan dari ibu ke anak melalui perinatal dengan rata-rata temuan kasus 6-10 anak yang terinfeksi setiap tahun.

Anak yang terinfeksi HIV dan anak yang terdampak HIV memerlukan penanganan khusus untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh KPA Kota Bandung untuk menangani hal tersebut adalah dengan memberikan bantuan susu formula dengan sasaran anak yang berumur 0-3 tahun, Kegiatan ini didukung oleh PT. Frisian Flag Indonesia dan untuk indicator keberhasilan program maka dilakukan Pemeriksaan rutin anak penerima bantuan setiap bulan yang dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit dan pelaporan diberikan kepada Dinas Kesehatan Kota Bandung.

Tujuan Kegiatan

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah:

  • Mengurangi dampak sosial ekonomi dari infeksi HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat
  • Meningkatkan kualitas hidup anak yang terinfeksi HIV dan anak yang terdampak HIV melalui pemberian bantuan nutrisi
  • Meningkatkan taraf kesehatan anak yang terinfeksi HIV dan anak yang terdampak HIV melalui peningkatan gizi

Waktu dan tempat kegiatan

Kegiatan bantuan pemberian susu formula ini dilakukan dari Januari – Desember 2017 dengan melibatkan 4 (empat) layanan pendamping di, yaitu:

  • Puskesmas Garuda Kota Bandung
  • Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bandung
  • Klinik Teratai – RSUP Hasan Sadikin
  • KPA Kab. Bandung Barat

Biaya Kegiatan

Untuk melaksanakan kegiatan ini, KPA Kota Bandung mendapatkan dukungan dana dari:

Dana Hibah APBD Kota Bandung

Hibah APBD Kota Bandung sebesar Rp 10.800.000,- (sepuluh juta delapan ratus ribu rupiah)

Dana Bantuan Frisian Flag

CSR PT. Frisian Flag Indonesia berupa susu formula dengan total nilai sebesar Rp 214.339.033,- (dua ratus empat belas juta tiga ratus tiga puluh sembilan ribu tiga puluh tiga rupiah)

Penerima manfaat

Penerima manfaat dari kegiatan ini adalah anak yang terinfeksi (ADHA)  dan terdampak HIV dengan rentang usia 0 – 3 tahun.

Jumlah kumulatif penerima manfaat sampai Desember 2017 sebanyak 80 anak, dengan perincian sebagai berikut:

  1. Pernah mendapatkan bantuan sebanyak 30 anak
  2. Masih menerima bantuan sebanyak 50 anak

Proses kegiatan

Secara garis besar, proses kegiatan pemberian bantuan nutrisi dapat digambarkan dalam alur sebagai berikut:

Analisa hasil kegiatan

Dari bagan di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Penerima bantuan/manfaat terbanyak adalah anak yang berusia 1 – 3 tahun, hal ini harus menjadi perhatian khusus dikarenakan pada masa ini adalah masa persiapan menjelang masa tumbuh kecerdasan anak. Hal ini sesuai dengan usia optimal tumbuh kembang anak yang bisa didapatkan secara maksimal pada usia 2-3 tahun1 dan fakta bahwa pada usia 4 (empat) tahun kapasitas kecerdasan anak telah mencapai 50%. Oleh karena itu, pada masa – masa persiapan tersebut perlu mendapatkan nutrisi yang tepat untuk mendorong kecerdasan anak.
  2. Dibandingkan dengan triwulan pertama (Januari – Maret), distribusi susu formula usia 1 – 3 tahun pada triwulan kedua dan seterusnya (April – Desember) mengalami penurunan sebesar 40%, hal ini dikarenakan jumlah penerima bantuan sudah melewati batas usia yang ditentukan yaitu 1 – 3 tahun.
  3. Distribusi susu formula untuk usia 0 – 6 menempati urutan ketiga, hal ini dikarenakan pada tahun 2017 jumlah bayi yang lahir dengan status HIV+ di layanan pendamping sangat sedikit. Bukan berarti kasusnya sudah menurun, tetapi jumlah ibu hamil yang melakukan test HIV masih sangat sedikit. Untuk itu diperlukan upaya promotif yang terus menerus untuk meningkatkan jumlah ibu hamil yang melakukan tes HIV.

Berat Badan dan Tinggi Badan menjadi indikator pertumbuhan anak. Dari grafik di atas dapat dilihat, bahwa secara umum penerima bantuan mengalami kenaikan berat badan dan tinggi badan. Dapat dikatakan bahwa asupan nutrisi yang baik menjadi salah satu faktor penunjang dalam tumbuh kembang anak.

4. Kami melakukan multivariate-analysis terhadap data yang kami dapatkan dalam proses monitoring dan evaluasi, untuk mencari hubungan antara pemberian susu dengan peningkatan berat badan anak. Desain yang kami pakai adalah prospective-longitudinal, dengan mengumpulkan data kunjungan per bulan mulai dari Januari sampai dengan Desember 2018. Untuk menghindari bias, data yang tidak lengkap karena kunjungan yang tidak dilakukan secara rutin akan kami exclude dari analisis ini. Dalam Analisa ini kami melakukan proses data-cleaning sehingga hanya didapatkan 38 responden yang memiliki data lengkap, artinya melakukan kunjungan setiap bulannya. Hasil yang kami dapatkan, terdapat rata-rata kenaikan berat badan sebesar 2,46 kilogram (standard deviasi 1,98 kilogram). Tidak didapatkan asosiasi antara kenaikan berat badan dengan kelompok umur (p value 0,53). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meskipun program bantuan susu dapat meningkatkan berat badan ADHA, namun program susu yang berdiri sendiri tidak cukup untuk secara signifikan meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan taraf kesehatan pada ADHA. Untuk mencapai dua tujuan tersebut perlu dilakukan program susu komprehensif2,3 dalam bentuk kombinasi antara pemberian susu dengan edukasi kepada orang tua dan tenaga kesehatan.

Rencana tindak lanjut

Dari hasil analisa kegiatan, maka diperlukan tindak lanjut yaitu:

  1. Identifikasi bayi yang akan lahir dari ibu HIV+ di tahun 2018, agar KPA Kota Bandung dapat mempersiapkan kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk anak usia 0 – 3 bulan
  2. Re-Identifikasi penerima bantuan usia 6 bulan sampai dengan 1 tahun
  3. Identifikasi penerima bantuan yang mempunyai co-infeksi TB
  4. Mendesain ulang program bantuan susu menjadi Program Bantuan Susu Komprehensif, untuk mencapai meningkatkan kualitas hidup dan taraf kesehatan.
  5. Perlu dilakukan penelitian lanjutan sebagai bagian dari evaluation-research dengan fokus kepada mengkaji asosiasi antara program bantuan susu komprehensif dengan:
    – Pengurangan dampak sosial ekonomi
    – Peningkatan derajat kesehatan

Penutup

Demikian laporan ini kami sampaikan, sebagai dokumentasi pertanggung jawaban dalam melaksanakan kegiatan. Kami berharap rencana bantuan selanjutnya dapat diwujudkan dalam bentuk program bantuan susu komprehensif dengan tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan susu, namun juga melakukan edukasi kepada ibu dan fasyankes sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan taraf kesehatan anak dengan HIV dan AIDS.

 

Referensi

  1. Villar J, Cheikh Ismail L, Staines Urias E, et al. The satisfactory growth and development at 2 years of age of the INTERGROWTH-21stFetal Growth Standards cohort support its appropriateness for constructing international standards. Am J Obstet Gynecol. 2017;(February).
  2. Morden E, Technau KG, Giddy J, Maxwell N, Keiser O, Davies MA. Growth of HIV-exposed uninfected infants in the first 6 months of life in South Africa: The IeDEA-SA collaboration. PLoS One. 2016;11(4):1-15.
  3. Yang G, Sau C, Lai W, Cichon J, Li W. HHS Public Access. 2015;344(6188):1173-1178.

 

Rapporteur:
Indra Budiman
Okkeu Supriyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *